| |

Festival Pendidikan Banda 2018 Menyatukan Langkah Untuk Pendidikan di Pulau Terluar Maluku (PART 1)

Perjalanan menuju Festival Pendidikan Banda dimulai dengan enam jam pelayaran menuju Neira, dilanjutkan satu jam perjalanan menggunakan kapal motor hingga akhirnya Tim Festival Pendidikan tiba di Pulau Ay. Setibanya di sana, kami disambut dengan keramahan penduduk serta senyum hangat Mama dan Bapa Piara kami masing-masing. Dalam festival ini, kami tidak sekadar datang dan pergi, tetapi tinggal bersama masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Selama tiga hari ke depan, Pulau Ay menjadi ruang bersama untuk berproses, belajar, dan berbagi. Pada dua hari pertama, berbagai kelas telah dilaksanakan, mulai dari Kelas Literasi, Komik dan Doodle, Mari Berbagi Seni, Pendidikan sebagai Gerakan Bersama, PHBS, Fun English, Roket Air, hingga Jagoan Finansial. Keterbatasan tidak menjadi penghalang. Tanpa akses listrik di siang hari dan dengan jarak tempuh yang cukup jauh menuju sekolah, semangat belajar justru terasa semakin kuat. Anak-anak, orang tua, dan masyarakat hadir dengan antusias yang sama.

Sementara itu, tim Festival Pendidikan Banda lainnya tiba di Neira setelah menempuh enam jam perjalanan menggunakan kapal cepat. Perjalanan panjang ini mengantar niat baik menuju kerja nyata. Tim relawan yang akan berbagi di Pulau Ay, Hatta, dan Sjahrir berasal dari berbagai komunitas, di antaranya Kreatifator Indonesia, Komunitas Ruang Baca Kota Banjar, Gerakan Seribu Buku, English Club Team, Maluku Science Club, serta Dr. Dwayne.

Bagi banyak relawan, ini adalah pengalaman pertama menginjakkan kaki di wilayah ini. Di balik senyum bahagia mereka, tersimpan usaha gigih dan cerita panjang. Banda menyambut dengan keindahan alamnya, dan masyarakat menyambut dengan hati yang terbuka. Di balik layar, banyak tangan bekerja agar festival ini benar-benar memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.

Semangat Siwalima pun kembali terasa. Bergerak bersama demi Banda Cerdas dan Maluku Cerdas.

Similar Posts