Festival Pendidikan Banda 2018 Menyatukan Langkah Untuk Pendidikan di Pulau Terluar Maluku (PART 2)
Salah satu potret pendidikan di wilayah ini terlihat di SD Kecil Pulau Sjahrir. Siang itu, dua guru mengajar empat belas siswa di tengah kebun pala. Ibu Santi mengajar siswa kelas satu hingga tiga, sementara Ibu Mira menangani kelas empat hingga enam. Di sela proses belajar, kami berdiskusi bersama mereka tentang pengembangan minat baca dan metode pembelajaran yang dapat diterapkan di tengah keterbatasan.
Gedung sekolah yang sederhana tidak membatasi prestasi. Anak-anak di sekolah ini pernah meraih juara dua lomba cerdas cermat dan juara lomba lari se Kecamatan Banda. Sistem belajar gabungan membuat semua siswa terbiasa mendengar dan menyerap materi lintas kelas. Anak kelas empat belajar materi kelas lima dan enam, begitu pula sebaliknya. Dari ketekunan dan kerelaan para guru, kami belajar bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.
Perjalanan berlanjut selama empat puluh lima menit menggunakan kapal nelayan menuju Pulau Hatta. Di Madrasah Ibtidaiyah Alhillaal, berbagai kelas berbagi kembali dilaksanakan. Kakak Elsye Pelupessy dan Suat Ratriyan berbagi Fun English melalui permainan Snake and Ladder bertema lingkungan serta literasi digital dasar untuk siswa kelas empat hingga enam. Sementara itu, Kakak Isye Huliselan dan Ega Patt belajar bersama siswa kelas satu hingga tiga tentang Perilaku Hidup Bersih dan pengurangan sampah plastik.
Sekolah ini hanya memiliki lima guru yang saling mendukung dalam melayani siswa-siswi. Kepala sekolah sekaligus Bapa Piara kami, Pak Roesdi, menjadi penggerak utama yang membantu koordinasi dan persiapan kegiatan. Dari anak-anak dan guru di Pulau Hatta, kami kembali belajar bahwa tidak ada yang mustahil ketika semua saling membantu.
Hari berikutnya di Pulau Hatta diisi dengan pembuatan pojok-pojok aktivitas belajar kreatif. Ada Pojok Sains Suara Lebah, Piramida Makanan, Ular Tangga Lingkungan, Roket Air, serta Pojok Literasi. Tawa, diskusi, dan rasa ingin tahu memenuhi sore itu. Anak-anak bebas mencoba, gagal, berdiskusi, dan mencoba kembali. Proses belajar terjadi bukan hanya lewat buku dan pena, tetapi melalui pengalaman yang bermakna.
Puncak pengalaman di Pulau Hatta hadir melalui Kelas Pengenalan Alam Bawah Laut. Menggunakan snorkel, fin, dan pelampung, anak-anak untuk pertama kalinya melihat langsung keindahan laut yang selama ini lebih sering dinikmati wisatawan. Dibantu pemuda dan guru setempat, anak-anak menyaksikan ikan, lobster, kerang, dan berbagai kehidupan laut lainnya. Sepanjang perjalanan pulang, cerita tentang apa yang mereka lihat mengalir tanpa henti.
Ketika anak-anak mengenal dan mencintai alamnya, akan tumbuh keinginan untuk menjaganya. Alam benar-benar menjadi ruang belajar yang hidup. Festival Pendidikan Banda bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan proses panjang membangun harapan, kepercayaan, dan keluarga baru di pulau-pulau kecil Maluku.
Salam Maluku Cerdas.
